Let's join new friends and new year learning experience. Click for student list!

Kurang Percaya Diri di Hadapan Teman KantorKarirKurang Percaya Diri di Hadapan Teman Kantor

Kurang Percaya Diri di Hadapan Teman Kantor

Seberapa sering kamu merasa minder di kantor, saat harus presentasi di depan atasan, bertemu dengan klien, atau bernegosiasi untuk mencapai suatu tujuan. Kita sudah tahu bahwa kepercayaan diri sangat berpengaruh terhadap performa dan pengalaman kita bekerja.

Sebuah studi longitudinal yang dilakukan oleh Kuster, Orth, dan Meier menemukan bahwa kepercayaan diri yang lebih tinggi berkaitan dengan kepuasan kerja, dukungan di tempat kerja, serta peluang sukses yang lebih baik dalam jangka panjang.

Lantas, bagaimana caranya agar kita dapat meningkatkan rasa percaya diri kita? Sebelum itu, mari kita kenali cara-cara orang-orang memposisikan diri di hadapan orang lain.

Bagaimana Seseorang Memposisikan Diri di Hadapan Seseorang?

Seorang psikiater asal Kanada bernama Eric Bernie mengembangkan sebuah teori bernama Transactional Analysis yang kemudian menjadi sangat populer dikenalkan lewat buku “I’m OK, You’re OK” karya Thomas A. Harris dengan nama OK Corral atau Life Positions

Ada 4 cara seseorang memandang dirinya dan orang lain:

a) I’m Okay, You’re Okay

“Saya merasa diri saya bernilai, dan saya juga melihat orang lain bernilai.” Ini posisi paling sehat untuk kerja sama, komunikasi, dan menerima feedback. Ini idealnya seseorang dapat memposisikan diri di hadapan orang lain

b) I’m Not OK, You’re OK

“Saya merasa kurang mampu atau kurang bernilai dibanding orang lain.” Di kantor, ini adalah kondisi yang paling sering terjadi, bisa muncul sebagai minder, takut bicara, takut salah, atau terlalu bergantung pada validasi.

c) I’m OK, You’re Not OK

“Saya merasa diri saya benar atau lebih mampu, sementara orang lain dianggap kurang kompeten.” Di kantor, ini bisa muncul sebagai sikap dominan, defensif, menyalahkan, atau sulit menerima masukan. Ini biasanya sulit dirasakan oleh yang memiliki kondisi tersebut.

d) I’m Not OK, You’re Not OK

“Saya merasa diri saya tidak mampu, dan orang lain juga tidak bisa diandalkan.” Ini bisa muncul sebagai apatis, sinis, mudah menyerah, atau merasa semua usaha percuma. Kondisi seperti ini sudah sangat tidak sehat untuk kedua pihak.

Di antara keempat kondisi di atas, mana yang sering kamu alami atau observasi?

Bagaimana cara menjadi “I’m Okay, You’re Okay”?

Ada 4 cara agar kamu bisa membuat dirimu dan orang lain nyaman dan ke depannya membantu kamu berinteraksi dengan siapapun di tempat pekerjaan:

a) Pause dan tanyakan, kamu sedang mode apa?

Yang sering terjadi, kita lupa posisi kita sehingga kita tenggelam dalam karakter inferior. Berhenti sejenak dan tanyakan “aku sedang memposisikan diri seperti apa?” Pertanyakan “Apa faktanya?” “Apa interpretasi saya?” “Respons apa yang paling produktif?”

b) Pindah dari reaktif ke proaktif, validasi ke kontribusi

Reaktif adalah bereaksi tanpa merasa memiliki kendali dari reaksi yang kita pilih, sementara proaktif adalah mengambil tanggungjawab untuk memilih reaksi yang paling tepat.

Ubah dari “Kalau saya salah gimana?” menjadi “Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?” Dari “Apakah atasan saya akan approve?” menjadi “Apa satu nilai tambah yang bisa saya bawa?”

c) Berhenti merendahkan diri

Banyak orang di kantor memakai bahasa yang mengecilkan diri, seperi “Maaf kalau salah…”, “Ini cuma ide kecil…”, atau “Mungkin ini nggak penting…”

Mungkin terlihat sopan, tapi kalau terlalu sering, ini memperkuat posisi I’m Not OK, You’re OK. Ganti bahasa yang terlalu merendahkan diri menjadi bahasa yang tetap rendah hati tapi lebih percaya diri. Misalnya:“Saya punya satu alternatif yang bisa dipertimbangkan.”, “Saya belum yakin sepenuhnya, tapi ini hipotesis awal saya.” atau “Saya ingin mengusulkan pendekatan lain.”

d) Bedakan feedback dari ancaman harga diri

Salah satu pelajaran penting dari framework ini: ketika self-esteem rapuh, feedback terasa seperti serangan terhadap diri. Padahal feedback biasanya hanya informasi tentang pekerjaan. Action-nya: saat menerima kritik, pisahkan tiga hal: Diri saya ≠ hasil kerja saya ≠ revisi yang diminta

Kalimat internalnya: “Pekerjaan saya perlu diperbaiki, bukan berarti saya tidak kompeten.”

Intinya, membangun kepercayaan diri bukan tentang menjadi paling hebat, tapi tentang belajar melihat diri secara lebih objektif, tetap berani berkontribusi, dan tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut dinilai.

Perlu Konsultasi dan Curhat Seputar Karier?

Membangun kepercayaan diri di dunia kerja tidak selalu mudah. Terkadang, kamu butuh lebih dari sekadar insight. Perlu ruang aman untuk berdiskusi dan melihat situasi secara lebih objektif. Teman Diskusi hadir untuk membantu kamu memahami pola pikir yang mungkin menghambat, sekaligus menyusun langkah konkret untuk perkembangan kariermu.

Sesi konsultasi dipandu oleh Cinta Maulida, seorang certified professional coach di bidang karier yang berpengalaman dalam membantu klien-kliennya meningkatkan self-awareness dan kepercayaan diri profesional. Jika kamu sering merasa minder, ragu mengambil keputusan, atau ingin berkembang lebih jauh, kamu tidak perlu menjalaninya sendiri. Hubungi Teman Diskusi via WhatsApp: +62 812-9553-0065 (Najwa).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *