Kenapa Ibu Harus Jadi CFO Keluarga di Tengah Ekonomi yang Tidak Pasti

TemanDiskusi.id — CFO, atau Chief Financial Officer, adalah orang yang bertanggung jawab atas seluruh kesehatan finansial sebuah organisasi. Ia yang memastikan arus kas berjalan lancar, prioritas pengeluaran tepat sasaran, dan masa depan keuangan sudah direncanakan jauh-jauh hari. Di dalam keluarga, peran itu hampir selalu ada di tangan ibu.
Survei Sun Life Indonesia 2026 menemukan bahwa peran perempuan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga semakin dominan. Ibu bukan hanya yang paling tahu ke mana uang mengalir setiap bulan, tapi juga yang paling sering menanggung konsekuensinya ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Dan data SNLIK OJK 2025 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan perempuan Indonesia masih berada di angka 65,6%, sedikit di bawah laki-laki yang mencapai 67,3%. Kesenjangan ini kecil, tapi konsekuensinya nyata, terutama bagi ibu yang setiap hari harus membuat keputusan finansial untuk keluarganya.
Menjadi CFO keluarga yang baik bukan soal serba tahu atau tidak pernah salah hitung. Tapi soal punya bekal yang cukup untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang, bahkan di tengah tekanan ekonomi yang tidak selalu bisa kita kendalikan.
Harga naik, tapi bukan berarti keuangan keluarga harus ikut kacau
Belanja bulanan rasanya semakin berat. Inflasi tahunan Indonesia sempat menyentuh 4,76% pada Februari 2026, tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir. Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan anak tidak berhenti tumbuh, dan pengeluaran rumah tangga rasanya selalu selangkah lebih cepat dari pemasukan.
Yang menarik, masalahnya seringkali bukan semata soal kurangnya uang. Tapi soal tidak adanya sistem yang jelas untuk mengelolanya. Dan tanpa sistem itu, bahkan penghasilan yang cukup pun bisa terasa selalu kurang.
Tantangan ibu dalam mengelola keuangan keluarga
Pada April 2026, Teman Diskusi berkolaborasi dengan Komunitas Bidan Kriwil untuk menyelenggarakan webinar keuangan bertema “Strategi Ibu Cerdas Hadapi Kenaikan Harga”. Nurfitria Pratiwi, CFP, Perencana Keuangan Profesional dari Teman Diskusi, membawakan materi yang langsung menyentuh situasi nyata para ibu. Dari diskusi yang berlangsung bersama lebih dari 50 peserta, ada lima area yang paling banyak menjadi perhatian.
Yang pertama adalah cash flow rumah tangga. Bukan soal jumlah penghasilan, tapi soal apakah kita tahu persis ke mana uang itu mengalir setiap bulannya. Tanpa gambaran yang jelas, pengeluaran kecil yang terasa sepele bisa diam-diam menjadi bocoran besar yang tidak pernah terdeteksi.
Dana darurat menyusul sebagai blindspot berikutnya, dan dalam kondisi ekonomi saat ini, urgensinya jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.500 per dolar AS pada Mei 2026, rekor terlemah sepanjang sejarah, dan dampaknya sudah mulai terasa langsung di pasar: harga pangan impor naik, bahan baku produksi mahal, dan biaya hidup rumah tangga ikut terdorong naik. Dalam situasi seperti ini, dana darurat bukan lagi sekadar “nice to have”. Ia adalah pelampung yang menentukan apakah keluarga bisa tetap stabil ketika ada ketidakstabilan finansial, atau harus berutang untuk menutupinya.
Bagi banyak ibu, dana darurat seringkali menjadi tantangan. Maka dari itu, daripada bertanya “kapan saya bisa kumpulkan semuanya?”, lebih baik jika kita fokus kepada tindakan “apa yang bisa saya sisihkan bulan ini, mulai sekarang?” Dana darurat tidak harus dibangun sekaligus. Yang penting ada pergerakannya, sedikit demi sedikit, dengan konsisten.
Dana pendidikan yang semakin harus disiapkan
Ketiga, dana pendidikan anak. Biaya pendidikan di Indonesia rata-rata naik 10 sampai 15 persen setiap tahun. Artinya, semakin lama menunda merencanakannya, semakin besar beban yang harus ditanggung nanti. Mulai lebih awal, meski dari jumlah kecil, selalu lebih baik dari menunggu “siap”.
Keempat, prioritas keuangan yang realistis. Ini yang paling mudah disepelekan, tapi paling terasa dampaknya ketika ekonomi sedang tidak bersahabat. Ketika rupiah melemah, yang pertama naik adalah harga pangan impor, bahan baku makanan, obat, alat kesehatan, elektronik, hingga barang kebutuhan rumah tangga, karena hampir semuanya terhubung dengan rantai pasok global. Artinya, daftar “kebutuhan” yang dulu terasa cukup dengan anggaran tertentu, sekarang tidak lagi cukup dengan anggaran yang sama.
Di sinilah ibu perlu punya kerangka yang jelas untuk memilah: mana yang memang kebutuhan mendesak, mana yang keinginan yang bisa ditunda, dan mana yang sebetulnya sudah tidak relevan tapi masih kita bayar karena kebiasaan. Bukan soal pelit atau tidak, tapi soal memastikan setiap rupiah yang keluar benar-benar bekerja untuk keluarga, bukan hilang begitu saja karena tidak ada yang mengawasinya.
Kelima, investasi. Ini yang paling sering ditunda dengan alasan yang sama: menunggu ada uang lebih, menunggu paham dulu, menunggu kondisi yang lebih stabil. Tapi investasi tidak harus dimulai dengan jumlah besar. Yang paling menentukan adalah konsistensinya, bukan nominalnya.
Ibu yang tenang secara finansial adalah investasi terbaik keluarga
Ada perubahan yang terjadi ketika seorang ibu mulai punya pegangan soal keuangan keluarganya. Ia tidak lagi menyambut awal bulan dengan kecemasan dan kebiasaan “gali lubang tutup lubang”. Pengaturan keuangan keluarga yang baik akan membuat keputusan yang tadinya terasa berat mulai bisa diambil dengan lebih jernih. Semua karena ada sistem yang menopangnya, bukan sekadar perhitungan berdasarkan perasaaan saja.
Menjadi ibu cerdas secara finansial bukan berarti harus sempurna. Tapi mau belajar, mau mulai, dan tidak menunggu kondisi ideal yang mungkin tidak pernah benar-benar datang.
Jika kamu adalah seorang Ibu yang ingin mulai menata keuangan keluarga tapi tidak tahu harus dari mana, Teman Diskusi menyediakan sesi konsultasi keuangan personal maupun keluarga yang bisa disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan. Cek selengkapnya di temandiskusi.id atau hubungi kami melalui WhatsApp di 0812-9553-0065 (Najwa).
